Electronic Resource
(E) Ulama dan Negara-Bangsa : membaca masa depan islam politik di indonesia
Buku ini memuat temuan penting bahwa sejumlah 71,56 persen ulama menerima sistem negara-bangsa dan 16,44 persen ulama menolak (12 persen tidak teridentifikasi). Meski mayoritas ulama menerima negara-bangsa, angka 16,44 persen penolakan bukanlah angka yang sedikit. Penolakan tersebut dapat dijelaskan dengan tumbuhnya pemahaman di kalangan sebagian ulama tentang ketidakterpisahan gagasan antara agama (dīn) dan negara (daulah) disertai dengan ekspresi ketidakpuasan mereka terhadap situasi sosial, politik dan ekonomi saat ini. Selain faktor ideologis, penolakan ini juga dilatari oleh dinamika politik Islam di era demokrasi elektoral. Sejumlah ulama memainkan simbol dan idiom Islam untuk bernegosiasi secara terus-menerus dengan negara terkait sentralitas Islam dan posisi mereka dalam kehidupan politik dan sosial keagamaan masa kini. Buku ini juga menunjukkan bahwa sikap intoleran (23,56 persen) dan anti-kewargaan (30,89 persen) di kalangan ulama menjadi tantangan yang cukup serius
Tidak tersedia versi lain